RS Pirngadi Tagih 5 Jutaan Pasien Laka Peserta BPJS Pakai Bill Manual, Irwansyah : Saya Peserta BPJS Kok Dibilang Umum?

- Penulis

Selasa, 25 November 2025 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN –  Persoalan pelayanan publik kembali menjadi sorotan setelah seorang pasien patah kaki bernama Irwansyah mengaku mengalami kejanggalan pada proses administrasi dan pembiayaan di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Peristiwa ini bermula pada 31 Oktober 2025 sekitar pukul 08.30 WIB, ketika Irwansyah datang untuk mendapatkan perawatan usai jatuh dari lantai dua hingga mengalami patah kaki.
Setelah beberapa hari dirawat, Irwansyah mengaku didatangi salah satu pegawai rumah sakit yang menanyakan soal pembayaran biaya perawatan. Ia mengaku terkejut ketika diinformasikan bahwa jumlah biaya yang harus dibayar mencapai sekitar 6 jutaan lebih.
“Saya langsung tanya, biaya apa sampai segitu? Saya masuk pakai BPJS, kok dibilang umum,” ujar Irwansyah kepada wartawan.
Menurut penuturan Irwansyah, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa status administrasinya tercatat sebagai pasien umum, bukan BPJS. Adu mulut pun terjadi. Merasa khawatir biaya semakin membengkak, Irwansyah memilih meninggalkan rumah sakit atas kemauan sendiri, meski pihak rumah sakit disebut sempat berusaha menahannya.
Keesokan harinya, Irwansyah dan keluarga kembali mendatangi rumah sakit untuk meminta penjelasan dan rincian resmi biaya.
“Saya minta rincian dari sistem. Saya masuk BPJS, kenapa dibuat umum? Saya juga tidak pernah tanda tangan rujukan dari Rumah Sakit Royal Prima,” tegasnya.
Salah satu pegawai rumah sakit yang mengaku sebagai dokter dan disebut bernama Budi sempat menyampaikan bahwa Irwansyah adalah pasien yang “ditangani dan dioperasi”. Namun pernyataan itu langsung dibantah oleh Irwansyah.
“Saya tidak pernah dioperasi. Tidak ada tindakan operasi apa pun. Yang ada justru banyak keluhan saya tidak ditanggapi,” ungkapnya.
Belakangan, pihak rumah sakit melalui humas menegaskan bahwa Budi bukan dokter, melainkan pegawai yang hanya memberikan penjelasan.
Penjelasan resmi pihak Rumah Sakit saat dikonfirmasi awak media Senin 15/11/2025, Humas RSUD Dr. Pirngadi, Gibson Girsang, membenarkan bahwa Irwansyah memang dirawat di rumah sakit tersebut.
“Benar dia dirawat di sini. Namun statusnya pasien umum, bukan BPJS. Dia juga tidak ditanggung BPJS karena merupakan rujukan dari RS Royal Prima Medan. Dan pasien pulang atas permintaan sendiri. Kemungkinan ini hanya kesalahpahaman, nanti akan kami evaluasi,” ujarnya.
Namun pernyataan itu kembali dibantah oleh Irwansyah. “Saya memang pernah berobat ke Royal Prima, tapi untuk sakit lambung, bukan patah kaki. Untuk kasus patah kaki ini saya langsung datang ke RS Pringadi. Saya tidak pernah tanda tangan rujukan apa pun,” tuturnya.
Gibson menegaskan bahwa pihak rumah sakit memiliki dokumen rujukan yang dimaksud dan siap menunjukkannya kepada pasien.
Irwansyah mengaku akhirnya mendapatkan rincian biaya yang diminta. Namun ia mempertanyakan keabsahan dokumen tersebut karena ditulis menggunakan pulpen, dan biaya tercantum berubah menjadi sekitar Rp.5 jutaan lebih.
“Loh, kok tulisan tangan? Kenapa biaya berubah? Katanya dari sistem. Tapi alasannya sistem gangguan. Ini bagaimana sebenarnya?,” keluh Irwansyah.
Hingga berita ini diterbitkan, persoalan status kepesertaan BPJS, dugaan dokumen rujukan, hingga perbedaan rincian biaya masih menunggu klarifikasi lanjutan dari pihak rumah sakit.
Publik menantikan evaluasi menyeluruh dari pihak manajemen RS Pringadi demi menjamin hak pelayanan kesehatan masyarakat berjalan sesuai aturan dan transparansi. (FS/MUHAMMAD FAUZI)
Baca Juga:  Kembalikan Kejayaan Tembakau Deli, RH PTPN I Silaturahmi ke Walikota Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Tenang dalam Sikap, Tegas Menjaga Pers! Ini Gebrakan Irfandi Pimpin FORWAKA Sumut
Tia Ayu Anggraini Sosialisasikan Perda No. 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Persampahan di Medan Labuhan dan Medan Marelan
Forwaka Dairi Dilantik, Irfandi Tekankan Profesionalisme dan Perlindungan Hukum dan Peningkatan Ekonomi Jurnalis
KKMP di Medan ‘Cangkang Kosong’, SPPG Diduga Cuekin Kopkel, FKKMP Sumut Minta Presiden Prabowo Turun Tangan
FKSM Minta Stop Proyek Drainase di Jalan Baru-Jalan Andansari Kel. Terjun Diduga Mutu U Ditch Jelek, PPK akan Cek, Jaksa akan Puldata
Dugaan Tangan Kuat Gagalkan MBG dan KKMP di Medan, FKSM Minta Usut Monopoli Pengadaan Barang dan Abaikan Naker Lokal di SPPG di Kota Medan
Diduga Mutu U Ditch Jelek dan Dikerjakan Asal-asalan, LP3 Minta Jaksa Periksa Proyek Drainase Rp. 6,9 Miliar di Jalan Andansari Terjun
Ecovia Gelar Kampanye Sehari Sebumi, Dorong Kepedulian terhadap Sampah Plastik
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terbaru

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Tenang dalam Sikap, Tegas Menjaga Pers! Ini Gebrakan Irfandi Pimpin FORWAKA Sumut

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:51 WIB

Tia Ayu Anggraini Sosialisasikan Perda No. 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Persampahan di Medan Labuhan dan Medan Marelan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 00:13 WIB

Forwaka Dairi Dilantik, Irfandi Tekankan Profesionalisme dan Perlindungan Hukum dan Peningkatan Ekonomi Jurnalis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:22 WIB

KKMP di Medan ‘Cangkang Kosong’, SPPG Diduga Cuekin Kopkel, FKKMP Sumut Minta Presiden Prabowo Turun Tangan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:32 WIB

FKSM Minta Stop Proyek Drainase di Jalan Baru-Jalan Andansari Kel. Terjun Diduga Mutu U Ditch Jelek, PPK akan Cek, Jaksa akan Puldata

Berita Terbaru

Kajati Sumut

Wakajati Sumut Jadi Penguji Seminar Hasil PKN II di BPSDM Sumut

Jumat, 25 Sep 2026 - 10:25 WIB

Sumatera Utara

Pelantikan SMSI Madina, Erris: Segera Bentuk Pokja News Room Jaga Desa!

Minggu, 13 Sep 2026 - 22:25 WIB