KARO — Ratusan orangtua siswa yang diduga menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Berastagi dan Yayasan Bersama, Kabupaten Karo, menyampaikan pesan kepada Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka melalui dua papan bunga.
Papan bunga tersebut dipasang di pinggir jalan tepat di bawah Tugu Perjuangan, Kota Berastagi, Kabupaten Karo, Kamis (24/9/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemasangan papan bunga itu menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengingat kepada Wakil Presiden atas perhatian yang diberikan kepada para siswa setelah kejadian yang diduga berkaitan dengan program MBG pada 13 Agustus 2026 lalu.
Salah satu tulisan yang mencolok pada papan bunga tersebut berbunyi, “Janji Pak Wapres jangan dilupakan.”
Sementara pada papan lainnya tertulis pesan, “Terima Kasih Pak Wapres RI Gibran Rakabuming Raka atas kepeduliannya kepada korban MBG di Karo. Tapi belum tuntas, Pak.”
Pesan tersebut disampaikan karena para orangtua menilai persoalan yang dialami anak-anak mereka belum sepenuhnya selesai. Sejumlah siswa disebut masih mengalami keluhan kesehatan dan harus menjalani pemeriksaan maupun perawatan medis secara berulang.
Perwakilan orangtua korban, Pelita Monald Ginting, S.Pd., mengatakan, ketika berkunjung ke Tanah Karo dan menjenguk para korban, Wakil Presiden Gibran menyampaikan sejumlah hal terkait penanganan para siswa.
Menurut Pelita, salah satu hal yang disampaikan adalah permintaan kepada Gubernur Sumatera Utara untuk melakukan pendataan terhadap siswa korban serta memberikan kompensasi kepada orangtua yang harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak menjalani perawatan.
“Gibran memerintahkan Gubernur Sumut mendata para siswa dan mengganti kerugian atau memberikan kompensasi kepada orangtua yang tidak bisa bekerja lagi karena merawat anak,” ujar Pelita, yang diamini sejumlah orangtua korban.
Selain itu, menurut Pelita, Wakil Presiden juga meminta agar pelayanan rumah sakit terhadap para korban ditingkatkan dan proses pengobatan dilakukan secara maksimal.
Para orangtua memahami pernyataan tersebut sebagai komitmen agar para korban memperoleh pelayanan serta pengobatan yang optimal sampai kondisi mereka membaik.
Persoalan pembiayaan pengobatan juga menjadi perhatian para orangtua. Mereka mempertanyakan mekanisme penggunaan BPJS dalam penanganan medis para korban.
“Rumah sakit diminta meningkatkan pelayanan dan tidak menggunakan BPJS, karena pelayanan pengobatan melalui BPJS hanya tiga hari,” kata Pelita.
Menurutnya, kondisi sejumlah siswa hingga kini masih menjadi perhatian keluarga karena masih ada yang mengalami keluhan kesehatan dan harus kembali menjalani pemeriksaan atau mendapatkan perawatan medis.
“Orangtua Tunggu Realisasi Kompensasi”
Selain persoalan kesehatan, para orangtua mengaku mengalami kerugian karena harus meninggalkan pekerjaan untuk menjaga dan mendampingi anak-anak mereka selama menjalani perawatan.
Karena itu, realisasi kompensasi yang sebelumnya mereka pahami sebagai bagian dari penanganan korban kini menjadi salah satu hal yang ditunggu.
“Janji ini yang sekarang ditunggu para orangtua siswa. Semoga pesan ini sampai dan segera ditindaklanjuti oleh Wapres RI Gibran Rakabuming Raka,” harap Pelita.
“Orangtua Soroti Proses Hukum”
Tak hanya persoalan kesehatan dan kompensasi, para orangtua juga menyoroti perkembangan proses hukum terkait dugaan keracunan MBG yang ditangani Polres Karo.
Hingga Kamis (24/9/2026), para orangtua mengaku belum memperoleh kejelasan mengenai perkembangan penyelidikan maupun penanganan perkara tersebut, termasuk mengenai pihak yang nantinya dimintai pertanggungjawaban apabila ditemukan adanya unsur pidana.
Sejumlah keluarga korban disebut telah menyampaikan laporan atau pengaduan kepada pihak kepolisian. Para orangtua berharap proses hukum berjalan secara transparan sehingga penyebab kejadian dapat diketahui dan pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai ketentuan hukum apabila unsur pidana terbukti.
“Tugu Perjuangan Jadi Simbol’
Pemilihan Tugu Perjuangan Berastagi sebagai lokasi pemasangan papan bunga juga dinilai memiliki makna tersendiri bagi para orangtua.
Mereka ingin menunjukkan bahwa perjuangan keluarga korban belum berakhir. Di satu sisi, para siswa masih berjuang untuk memulihkan kondisi kesehatan mereka. Di sisi lain, orangtua masih memperjuangkan realisasi penanganan, kompensasi, serta kejelasan proses hukum.
“Ini masih menjadi perjuangan kami. Anak-anak masih berjuang untuk sembuh total dan orangtua juga masih menunggu janji yang disampaikan Pak Wapres,” ujar para orangtua siswa.
Para orangtua berharap pesan yang disampaikan melalui papan bunga tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus perhatian bagi pemerintah agar penanganan terhadap para siswa korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo dapat dituntaskan.(FS/Wira Sanjaya)






